Berita

Taliban Minta Pada Warga Afganistan, Daftar Gadis dan Janda Dinikahi Sebagai Budak Sek


Jaringpos.com│Taliban menuntut warga Afghanistan menikahkan anak perempuan remaja mereka sebagai budak seks bagi anggota kelompok teror itu. Demikian laporan yang dipublikasi The Sun pada Rabu (14/7).

Pernyataan yang mengeklaim berasal dari Taliban dilaporkan telah memerintahkan para pemimpin lokal di Afghanistan untuk menyajikan daftar anak perempuan, berusia di atas 15 tahun, dan janda, di bawah 45 tahun.


Menurut laporan yang sama, Taliban berjanji nantinya akan menikahkan perempuan-perempuan itu dengan anggotanya dan diangkut ke Vaziristan, Pakistan.

“Semua imam dan mullah di daerah yang direbut harus memberi Taliban daftar gadis di atas 15 tahun dan janda di bawah 45 tahun untuk menikah dengan pejuang Taliban,” kata surat itu, yang dikeluarkan atas nama Komisi Kebudayaan Taliban melansir The Sun pada Rabu (14/7).

Pernyataan tersebut dipublikasikan ketika kelompok ekstremis itu melanjutkan serangan besarnya. Taliban merebut sejumlah wilayah Afghanistan, dan memaksa ribuan tentara untuk melarikan diri atau menyerah, serta merebut gudang senjata berat Amerika Serikat (AS).

Baca Juga:

Mereka dibiarkan merajalela ketika AS, Inggris, dan negara-negara lain menarik pasukan terakhir yang tersisa setelah hampir 20 tahun perang. Sejumlah wanita yang takut akan masa depan mereka, melarikan diri dari negara yang dilanda perang ketika militan berjuang mendapatkan kendali penuh.

Setidaknya, sudah 85 persen wilayah Afghanistan dikuasai militan menurut klaim Taliban. Kelompok teror tidak menunjukkan tanda-tanda memperlambat serangan kilat mereka. Peraturan keras juga diterapkan pada mereka yang tinggal di wilayah yang direbut.

Perintah baru dipaksakan kepada warga Afghanistan, dengan larangan merokok dan mencukur jenggot di daerah-daerah. Sementara untuk perempuan larangan ke luar sendirian diberlakukan. Taliban memperingatkan siapa pun yang kedapatan melanggar aturan akan “ditangani dengan serius”.

Para ayah Afghanistan telah menyatakan kekhawatirannya bahwa preman Taliban akan mengambil anak perempuan mereka dan memaksa mereka menjadi budak.

Haji Rozi Baig, seorang sesepuh Afghanistan, adalah salah satu tokoh yang menyampaikan kekhawatiran akan pengambilalihan Taliban atas distrik Khwaja Bahauddin Takhar, bekas markas Aliansi Utara yang jatuh ke tangan ekstremis pada Juni.

“Di bawah kendali pemerintah, kami senang dan setidaknya menikmati kebebasan,” kata Baig, lapor Financial Times.

“Sejak Taliban mengambil alih, kami merasa tertekan. Di rumah, kami tidak dapat berbicara dengan keras, tidak dapat mendengarkan musik dan tidak bisa mengizinkan wanita pergi ke pasar Jumat.

“Mereka bertanya tentang anggota keluarga. Komandan (Taliban) mengatakan Anda tidak boleh menjaga anak perempuan di atas usia 18 tahun. Itu berdosa, mereka harus menikah.”

“Saya yakin keesokan harinya mereka akan datang dan mengambil putri saya yang berusia 23 dan 24 tahun dan menikahi mereka dengan paksa.”

Dia khawatir, perempuan bahkan akan memerlukan izin untuk meninggalkan rumah mereka, jika kelompok ekstremis itu kembali mengambil kendali dan menegakkan hukum Syariah versi mereka sendiri yang ketat. Taliban juga mewajibkan mengenakan jilbab, dan hanya mengizinkan wanita bersekolah jika guru mereka perempuan.

Sementara itu, Taliban mengungkapkan pada Rabu (14/7) bahwa mereka telah merebut lintasan strategis Spin Boldak di sepanjang perbatasan dengan Pakistan.

Kementerian dalam negeri bersikeras serangan itu telah berhasil dihalau dan pasukan pemerintah memiliki kendali. Tetapi sumber keamanan Pakistan mengatakan bendera putih Taliban masih berkibar di atas kota.

“Teroris Taliban memiliki beberapa gerakan di dekat daerah perbatasan,” klaim juru bicara Kementerian Dalam Negeri Afghanistan Tareq Arian kepada AFP.

“Pasukan keamanan telah menangkis serangan itu.” di kutip oleh International Media, Katanya (*slm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker