Advertorial

I Wayan Puspa Negara : Penopang Pariwisata Bali Harus Sejalan dan Merata

Mangupura, JaringPos | Setelah dua tahun kunjungan wisata ke Bali terus melorot akibat pandemic Covid-19, pariwisata Bali kini mulai berangsur pulih hal tersebut dilihat dari data kunjungan wisatan mancanegara ke Bali mulai meningkat. Meskipun masih didominasi wisatawan domestik. Target 1,4 juta wisatawan mancanegara (wisman) asal Australia agar datang berwisata ke Tanah Air, menjadi peluang besar bagi Pulau Dewata memulihkan ekonomi. Hal tersebut diungkapkan pegiat pariwisata Bali I Wayan Puspa Negara yang sekaligus sebagai Ketua Aliansi Pelaku Pariwisata Marginal Bali (APPMB) pada Senin (27/6/2022).

Dengan dibukanya kembali Border Internasional pada tanggal 04 Pebruari 2022 yang diikuti dengan produk regulasi SE Dirjen Imigrasi Nomor 0603/2022 tentang Pintu masuk dan pemberlakuan Visa On Arrival, dan bebas Visa kunjungan terbatas pada 72 negara, serta Imendagri Nomor 29 Tahun 2022 dengan menerapkan level 1 terkait PPKM hingga 4 Juli 2022.


“Sejumlah upaya kami selaku pelaku pariwasata langsung sekarang membuahkan hasil, berbagai cara yang kami lakukan mulai dari menyurati Gubernur sampai menyampaikan petisi kepada Presiden Joko Widodo agar Bali diberi kemudahan dalam menerima kunjungan wisatawan,” ujar pria yang juga ikut tergabung dalam Forum Bali Bangkit. Sembari menyampaikan bahwa ekonomi Bali 54% ditopang oleh pariwisata yang memiliki Multiplier dan Trickle-down effect yang terhubung dengan sektor-sektor lainnya.

Puspa Negara menjelaskan, kondisi pariwisata di Bali tergambar dari tingkat kunjungan penumpang, baik domestik maupun internasional, melalui bandara. Sebelum pandemi, yakni pada 2019, kedatangan penumpang domestik di bandara mencapai 4,98 juta orang dan turun tajam menjadi 1,74 juta orang pada 2020.

“Kemudian kembali naik menjadi 1,88 juta orang pada 2021 dan 2022 sampai bulan Mei tercatat 1,38 juta orang. Kedatangan wisnus (wisatawan nusantara) mencapai puncaknya pada tgl 1 Mei 2022 yakni mencapai 18.594 orang, lebih tinggi dibandingkan rata-rata harian Desember 2021 sebanyak 11.434 orang,” ujarnya.

Sedangkan kedatangan penumpang internasional di bandara pada 2019 tercatat 6,25 juta orang, turun drastis menjadi 1,04 juta orang pada 2020, 473 orang pada 2021, dan 214.930 orang hingga Mei 2022. Hingga kini, kedatangan wisatawan mancanegara (wisnman) juga masih dalam tren peningkatan, tertinggi pada 23 Mei 2022 yang mencapai 4.166 orang.

“Semoga tidak ada apa-apa sehingga wisatawan mancanegara bisa naik terus. Tahun depan 2-3 juta orang. Tahun berikutnya baru sampe 6,25 juta orang. Kita proyeksi, kedatangan wisnus akan mencapai 58% sedangkan kedatangan wisman mencapai 11,58% dibanding kondisi tahun 2019,” katanya.

Ia optimis pariwisata Bali bisa bangkit dan pulih total sebab ketika pandemi melanda seluruh dunia, Bali masih menyandang gelar sebagai World Best Populer Destination menurut Trip Advisor sementara predikat hotel terbaik di seluruh dunia juga ada di Bali.”Untuk itu kami mendorong peningkatan kemudahan yang bisa didapat oleh wisatawan untuk dapat masuk ke Bali, diantaranya Visa On Arrival (VOA) yang sekarang ini terbatas pada 72 negara dan 9 Visa kunjungan terbatas, bisa diperluas sampai 169 Negara, sama seperti sebelum terjadi pandemi Covid-19,” terangnya.

Sejalan dengan langkah strategis yang telah diambil Gubernur Bali Wayan Koster terkait pembangunan fundamental dan monumental di Bali berupa penguatan kondisi ekosistim Bali dalam upaya memberikan ke-khasan baru kondisi kepariwisataan Bali. “Dibangunnya 10 infrastruktur fundamental ini diantaranya penataan Pura Besakih, pembangunan Pusat Kebudayaan Bali di Klungkung, Pembangunan shortcut Denpasar-Singaraja, Dermaga Segitiga Emas Nusa Penida, pembangunan tower tertinggi di dunia di Pegayaman dan termasuk mengundang masuknya Paramount Group berupa pembangunan Kawasan Disneyland di Pekutatan, Negara dan semua ini kami apresiasi sehingga Bali tetap memiliki inovasi baru dari hari ke hari,” ujarnya sembari menambahkan bahwa pembangunan 10 infrastruktur fundamental ini juga sudah pasti akan mempermudah accesibilitas.

Bukan itu saja, Puspa Negara juga mendorong pemerintah daerah dan pemerintah pusat bisa memberi penguatan sumber daya manusia sebagai penopang pariwisata disuatu kawasan destinasi, terutama penguatan behavior, pengetahuan dan keterampilan. “Sebab, sebaik apapun sebuah destinasi tanpa daya dukung prilaku atau behavior masyaraktnya, destinasi itu tidak akan berkembang, ” tuturnya.

Di satu sisi ia pun mendukung terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Bali No. 5 tahun 2020 tentang standar penyelenggaraan Pariwisata Budaya Bali yang menurutnya sebagai terjemahan bahwa pariwisata Bali di bangun untuk memperkuat budaya dan budaya menjadi spirit pariwisata Bali. Untuk itu ia berharap kepada pemerintah pusat dan pemerintah daerah agar bisa memikirkan bagaimana pariwisata Bali yang didasarkan dengan kebudayaan Bali ini juga bisa bertumbuh seiring dengan perkembangan pariwisata yang mulai bangkit kembali.

Bali Visa Service-JaringPos

“Kita siap berbenah dan pemerintah menjadi leading sektor untuk menuju kebangkitan pariwisata Bali pasca pandemi covid. Sesuai dengan UU PDRD, jelas bahwa daerah diberi kewenangan untuk penerimaan pajak hotel dan restoran, tapi kita belum melihat bahwa secara menyeluruh belum ada bagi hasil secara faktual, besarnya pendapatan dari sektor pariwisata yang disetor ke pemerintah pusat melalui Visa On Arrival ini yang belum kita lihat hasilnya ke daerah,” ujarnya.

Ia mencontohkan untuk penerimaan VOA pada tahun 2018, jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bali jumlahnya 6,2 juta dengan pengenaan VOA yang bervariasi, sekarang ditengah pandemi covid yang masih berjalan, ia mengusulkan agar pemasukan dari VOA bisa disisihkan untuk memelihara budaya Bali secara langsung. Jika Voa bisa dikenakan 500rb per kepala, dengan menyisihkan 50% untuk daerah agar Bali bisa merawat, menjaga, melindungi dan memitigasi budaya Bali agar tidak tergerus.

“Bayangkan kita masih melihat penari kita masih ada yang naik truk, penari kita dihargai dengan harga yang kurang, tidak sepadan dengan kemampuan menarinya, oleh karena itu angka penerimaan Voa atau Visa saat kedatangan ini seyogyanya 50% minimal bisa diberikan kepada daerah Bali. Tanpa budaya Bali, pariwisata Bali tidak bisa bertumbuh dengan baik, untuk melakukan maintanance ini adalah biaya operasional yang bisa diberikan kepada pelaku budaya dan budaya itu sendiri, sehingga menimbulkan equalizing power dimana budaya diperkuat oleh pariwisata dan pariwisata diperkuat oleh budaya,” pungkasnya.(Ria)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker