Berita

Konsistensi dan Militansi Para Aktivis

Penulis Sil Joni pemerhati masalah sosial dan politik

Agar analisis ini terfokus, kita terlebih dahulu membuat semacam limitasi dari konsepsi aktivis yang dirujuk dalam tulisan ini. Secara leksikal term aktivis  dimengerti dalam dua perspektif. Pertama, aktivis adalah individu atau sekelompok orang yang tergabung dalam sebuah organisasi  politik, sosial, buruh, petani, pemuda, mahasiswa, perempuan yang bekerja aktif mendorong pelaksanaan sesuatu atau berbagai kegiatan di organisasinya. Kedua, seseorang yang memiliki kemampuan menggerakan masa dalam bentuk demonstrasi dan lain sebagainya.

Sedangkan dalam Wikipedia, aktivis adalah istilah umum yang merujuk pada kegiatan, baik yang dilakukan oleh perseorangan maupun lembaga swadaya masyarakat untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat umum menuju kehidupan yang baik. Aktivis sosial misalnya, merupakan seorang pengabdi yang mengorbankan tenaga, pikiran, bahkan harta bendanya untuk mewujudkan cita-cita yang bersifat informatif-universal.

Dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa istilah aktivis itu bisa dimaknai secara luas dan bisa juga dimengerti secara sempit. Untuk kepentingan tulisan ini, saya menggunakan pengertian kedua (arti terbatas) yaitu seseorang yang memiliki kemampuan untuk menggerakan massa dalam memperjuangkan kepentingan bersama.

Jadi, para aktivis yang saya maksudkan adalah mereka yang terlibat aktif dan menjadi aktor pelbagai gerakan perubahan  di tengah masyarakat. Mereka mengartikulasikan idealisme ‘perubahan’ itu dalam pelbagai wadah. Umumnya, gerakan itu bersifat kritis yang diekspresikan dalam bentuk tulisan dan penggalangan massa (demonstrasi) di beberapa tempat publik.

Aktivis sebagai ‘Panggilan’


Menjadi ‘aktivis’ itu, hemat saya bukan sebuah profesi prestisius dan glamour, melainkan sebuah ‘panggilan’ untuk mengadi pada nilai-nilai kebenaran. Sebagai sebuah panggilan etis-profetis, maka aktivis itu mesti berjuang secara tulus, independen, konsisten, dan militan.  Keterlibatannya dalam dunia ‘gerakan sosial’ tidak dilatari oleh ambisi memburu popularitas dan interese politik yang bersifat subyektif dan pragmatis.

Namun, dalam praksisnya ‘gen aktivis’ dalam tubuh seseorang kerap bermetamorfosis menjadi ‘pemburu nafsu’. Problemnya adalah mereka mendistorsi ‘makna luhur’ dari predikat aktivis itu. Aktivis diterjemahkan sebagai semacam profesi atau minimal ‘batu loncatan’ untuk bermukim di bawah ketiak penguasa.

Sudah tidak terhitung mantan aktivis di negara ini yang ‘terjerembab’ dalam arus perebutan kekuasaan yang dangkal itu. Setelah target ‘mengejar kuasa’ tercapai, dimensi kritisisme kian tenggelam dan tumpul. Alih-alih bersikap kritis, konsisten, dan militan ketika berhadapan dengan patologi kekuasaan, mereka malah menjadi ‘pengikut’ rezim yang mendewakan sistem yang korup dan otoriter.

Bahkan, ada yang tega menjadi ‘penjilat kekuasaan dan mengianati idealisme perjuangan sendiri. Nilai-nilai moral fundamental  yang dijadikan basis perjuangan, tidak dilaksanakan secara konsisten dan militen. Mereka lebih memilih ‘bermain aman’ dengan cara mendukung dan memberikan pujian palsu kepada penguasa.

Mereka yang dulu sangat vokal, getol, dan militan memprotes pelbagai kebijakan publik yang koruptif, kini setelah mencicipi kue kekuasaan, berbalik menjadi juru bicara dan pembela rezim yang pongah tersebut. Bisa ditebak bahwa keterlibatan mereka dalam dunia gerakan sebelumnya, dilatari oleh pertimbangan yang sangat pragmatis, ingin mendapat afirmasi dan posisi tertentu dalam tubuh kekuasaan. Buktinya, setelah berada di bawah ketiak penguasa, intelektualitas dan integritas diri mereka ”dilego” secara murah meriah. Para penguasa dengan mudah ‘menggenggam’ dan memanfaatkan jasa mereka sebagai ‘tukang pukul’ terhadap publik yang kritis terhadap kekuasaan.

Butuh Aktivis yang Konsisten dan Militan

Rencana dan kebijakan pemberian izin tambang Batu Gamping di Lengko Lolok dan pendirian Pabrik Semen di Luwuk oleh pemerintah, mendapat resistensi yang massif dari publik. Suara protes dan penolakan terus mengemuka di ruang publik. Pelbagai elemen masyarakat sipil termasuk institusi Gereja Katolik, mengadvokasi dan mendesain pelbagai upaya untuk membatalkan rencana politik itu.

Dari pemberitaan media kita mengetahui bahwa sejumlah aktivis berbaur bersama masyarakat mengadakan ‘demonstrasi’ ketika Gubernur NTT mengadakan kunjungan kerja ke Matim khususnya di lokasi tambang. Para demonstran itu memperlihatkan aksi heroik dan militan dalam menuntut dan mendesak Gubernur untuk segera ‘mencabut’ izin usaha tambang dan pabrik semen itu.

Saya kira, konsistensi dan militansi para aktivis menjadi sebuah keniscayaan agar gerakan penolakan ini ‘membuahkan hasil’. Isu tambang dan pabrik semen di Matim menjadi ‘batu ujian” juga untuk para aktivis. Motivasi dan intensi mereka dalam gerakan itu akan mudah terbaca jika terdapat indikasi ‘penodaan’ terhadap idealisme perjuangan itu.

Para aktivis pro demokrasi yang kontra tambang dan pabrik semen, tidak hanya berhadapan dengan rezim politik kapitalisme-neoliberal, tetapi juga mesti berjibaku ‘melawan’ sejumlah eks aktivis yang kini berbelok haluan, sebagai penjilat kekuasaan dan antek para kapitalis tambang.

Saya kira polemik publik dalam ruang virtual ini, semakin memperkuat simpulan tentang ‘tipologi’ eks aktivis yang menjadi pengkhianat itu. Rekam jejak digital mereka, menjadi ‘penanda’ perihal perubahan (sikap plin-plan) dari para ‘mantan aktivis’ itu. Sebelum ‘diberi makan oleh penguasa’,  mereka berada pada garda terdepan untuk menentang aneka agenda politik status quo. Namun, setelah perut mereka kenyang, mereka berpura-pura tampil sebagai pahlawan dalam mendukung dan membela kebijakan pemerintah.

Epilog

Sampai pada titik ini, kita bisa membedakan mana aktivis sejati dan mana aktivis palsu atau pesanan. Aktivis palsu biasanya hanya ‘menumpang sesaat saja’ dalam kereta perjuangan aktivismenya. Keterlibatannya hanya sebagai tameng untuk memburu kepentingan politik yang bersifat subyektif dan temporal.

Aktivis sejati adalah orang yang memperjuangkan visi-misi yang berbasis nilai dan keutamaan moral yang lebih luhur, perbaikan tata eokonomi politik yang pro pada kebaikan publik. Ia akan menanggalkan pamrih pribadi untuk berjuang secara konsisten dan militan perihal penegakan nilai keadilan dan kebenaran yang berdampak positif bagi kehidupan banyak orang.

Aktivis  itu tentu saja terlibat penuh dalam gerakan perjuangan dan pembelaan atas masalah-masalah tertentu yang biasanya berkaitan dengan masyarakat lemah. Seperti kesetaraan pendidikan, hak-hak bagi perempuan penegakan hukum, pelayanan kesehatan, dan termasuk upaya menjaga keseimbangan lingkungan. Aktivis terlibat dalam berbagai upaya untuk mewujudkan masyarakat yang lebih baik melalui advokasi, penggalangan dana, dan juga terjun langsung ke lapangan.

Isi tulisan ini sepenuhnya adalah tanggungjawab Penulis

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker