Berita

Pilkada Mabar:Euforia Kelimpahan dan Paradox Venezuela


Oleh Largus Tamur

Kita berada di persimpangan arus besar wacana global: kemajuan ilmu pengetahuan – teknologi, kesejahteraan ekonomi di satu sisi vs pertumbuhan berkelanjutan yang ramah lingkungan dan manusia di sisi lain. Kita berada di tengah-tengah pemujaan diri egosentris sekaligus hedonis di satu sisi tetapi sanubari kita dihentak oleh kemelaratan sebagian besar penghuni bumi di sisi lain. Kita di Manggarai Barat juga tidak ketinggalan. Kisah kita tidak jauh berbeda dengan paradoks besar penghuni bumi lainnya. Kita bahkan masih punya harapan. Dan inilah yang akan penulis kupas dalam tulisan ringkas ini.
Sekilas judul di atas terlihat ‘isolated’ dan dipaksakan, terutama jika kita hubungkan pilkada Mabar dengan frase euphoria kelimpahan lalu disandingkan dengan kisah paradoks dari negeri yang sangat jauh dari Amerika Selatan, Venezuela. Sesungguhnya, inilah pancingan emas untuk melambungkan imaginasi pembaca berselancar mengurai impian masyarakat Mabar untuk menggapai tata kelola pemerintahan yang efektif-efisien lewat pilkada demi pilkada lalu bercermin pada negara yang pernah menikmati tingkat pendapatan perkapita dan kesejahteraan yang sangat tinggi sebelum akhirnya terjerembab dalam kubangan kemiskinan yang dalam.
Mengapa Venezuela?
Venezuela bak kisah Abu, raja sehari-semalam, dalam dongeng 1001 malam. Negara yang dinamai dan dipandang sebagai Venezianya Amerika Selatan ini memiliki cadangan terbukti minyak paling besar di dunia dengan jumlah total 300 miliar barel mengalahkan Saudi Arabia (250 miliar barel) dan negara-negara penghasil minyak lainnya. Pertanyaannya, mengapa negara ini jatuh miskin?
Ada banyak analisis dan teori yang menjelaskan mengapa negara kaya minyak ini jatuh miskin? Yang pertama, setelah kegagalan kudeta yang dilakukan oleh PDVSA (Petróleos de Venezuela S.A/Perusahan Minyak Venezuela Tbk.) tahun 2002, Hugo Chavez, sang presiden kala itu, memecat 18.000 profesional dan direksi perusahaan dan menggantikan mereka dengan orang-orang kepercayaan presiden terlepas dari kompetensi mereka. Langkah itu diikuti oleh pengurangan investasi pada infrastruktur PDVSA yang membuat perusahaan negara itu ketinggalan teknologi. Mismanajemen ini berimplikasi pada penurunan kinerja dan produksi minyak perusahaan. Yang kedua, ‘oil booming’ meninabobokan pemerintah sehingga hanya bergantung pada hasil penjualan minyak dan melupakan diversifikasi income atau penyiapan SDM unggul pada bidang-bidang lain di luar minyak. Kegagalan ini membuat banyak professional Venezuela mencari dan mengabdikan keahlian mereka di luar negeri. Venezuela ditinggalkan seperti macan ompong, sejuta potensi nol kompetensi. Yang ketiga, persoalan klasik demokrasi prosedural. Nicolas Maduro terpilih sebagai presiden tahun 2013 melalui mekanisme demokrasi tetapi minus essensi serta penuh kecurangan. Fenomena ini bukan tunggal Maduro, tetapi inilah yang kita sebut ‘tirani demokrasi’ dan terjadi di banyak negara. Kita memilih kepala negara/ daerah melalui jalur-jalur demokrasi tetapi penuh manipulasi, sehingga yang terpilih bukanlah pemerintah-pemimpin yang cerdas-visioner berhati singa, kukuh pada kemauan dan tak pantang menyerah pada kondisi apapun, tetapi pemerintah-pejabat yang berprinsip ‘mumpung lagi menjabat’ menempatkan ‘loyal men’ pada posisi yang mudah dimanfaatkan kala dana yang diandalkan untuk mempertahankan jabatan periode berikutnya. Inilah tipikal ‘politician’ tetapi bukan ‘el politico’. Yang keempat, dividing politics. Venezuela sejak Hugo Chavez cenderung membangun politik blok yang sehaluan-‘sosialis’ dan sangat anti AS-kapitalis. Kebijakan ini membuat Venezuela sangat dekat dengan Rusia serta China, sebaliknya sangat anti Amerika Serikat. Implikasinya, lalu lintas dagang, barang dan teknologi sangat terbatas di antara kedua negara. Padahal, harus kita akui, Amerika Serikat tetaplah kiblat iptek global.
Pelajaran apa yang bisa kita petik?
Labuan Bajo sebagai beranda Manggarai Barat berada pada retina kebijakan pemerintahan Jokowi. Mungkin benar kata pepatah, ‘ketika Pusat membuat kebijakan, maka yang dipikirkan adalah Labuan Bajo.’ Begitu menarik dan menjanjikannya kawasan ini, sehingga siapapun tertarik untuk terlibat dalam pengembangannya. Tetapi, justru inilah titik kritisnya. Pertanyaan kita adalah apakah keunggulan/ kekuatan daerah ini untuk membuat lompatan kemajuan dan kesejahteraan yang berarti bagi masyarakat Mabar? Apa kelemahannya yang bisa menyebabkan paradoks Venezuela bisa terjadi di sini? Apa tantangan dan hambatan yang akan kita hadapi? Lalu apa peluang yang bisa kita tangkap dan manfaatkan untuk kemajuan Mabar? Jika kita mampu menganalisis keempat pertanyaan ini, barulah kita mengajukan pertanyaan terakhir sekaligus menjadi target tulisan ini, figur siapa yang memiliki karakter dan kemampuan untuk mengimplementasikan pertanyaan-pertanyaan di atas menjadi basis kebijakan pemerintahannya.
Sekarang, mari kita menggunakan ‘maieutic knife’ (metode bedah intelektual) ala Socrates untuk menganalisis empat pertanyaan pertama di atas. Sangat mudah untuk melihat apa sesungguhnya keunggulan/ kekuatan kita di Mabar: pariwisata. Dan ini tidak hanya terletak pada pantai dan pulau sekelas Padar yang indah, tetapi disokong kuat oleh budaya lokal Manggarai, penduduk yang sangat ramah disertai peradaban kita yang terbuka. Pariwisata ini juga didukung oleh budidaya pertanian yang menggenerasi, sehingga mudah bagi kita menikmati hamparan sawah yang menghijau atau menguning di tengah belaian sepoi sunset. Tetapi semua itu akan berakhir seperti cerita seekor anak elang yang tumbuh bersama ayam dan berpikir bahwa dia hanyalah ayam, ketika suatu ketika dia melihat elang mengudara sangat tinggi di angkasa.
Keunggulan kita akan berubah menjadi kelemahan ketika kita tidak tahu bagaimana mengolahnya. Kelemahan itu diperparah oleh kekurangan kasat mata seperti ketersediaan air bersih, infrastruktur jalan-jembatan yang tidak memadai, jaringan listrik yang belum menjangkau seluruh pelosok dan potensi daerah. Tetapi kita miliki kesempatan yang sangat besar ke depan melalui penciptaan ekosistem wisata yang memungkinkan sinergi seluruh potensi wisata alam dan budaya maupun wisata kreatif dalam rupa balai latihan kreasi/ kerja, koordinasi lintas kabupaten untuk menyatukan seluruh kekuatan budaya baik Manggarai maaupun kepulauan Flores secara menyeluruh. Kita tidak bisa hanya mengandalkan Labuan Bajo dan Mabar untuk menciptakan ekosistem wisata. Kita membutuhkan kerja sama multisektoral dan lintas kabupaten/ daerah.
Di tengah kesempatan –kesempatan yang terbuka di hadapan kita itu, sesungguhnya ada satu tantangan yang harus kita hadapi sekaligus selesaikan bersama: sustainable tourism. Mimpi Sustainable Development Goals (SDGs) yang dirancang dan dicanangkan oleh PBB adalah agar setiap pertumbuhan baik ekonomi-politik, ilmu pengetahuan-teknologi dan semua bidang lainnya sedapat mungkin selaras dan seirama serta bersahabat dengan alam. The UN Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) sejak 2013 maupun United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) tahun 2015 meliris hasil studi mereka tentang pemanasan global dan perubahan iklim. Dua ancaman ini adalah tantangan terbesar bagi siapapun pemimpin di seluruh dunia. Karena itu dibutuhkan langkah-langkah preventif yang efektif, tidak hanya sekedar melarang perambahan hutan tetapi juga menghutankan lahan kritis dan gurun, tidak hanya mengumpulkan sampah tetapi bagaimana mengurangi penggunaan material yang berpotensi menjadi sampah ‘abadi’ seperti plastic dan perjuangan yang tiada henti untuk menyadarkan masyarakat bahwa kita akan diadili oleh anak cucu kita puluhan bahkan ratusan tahun ke depan.
Saat ini, pilkada masih beberapa bulan di depan mata kita. Saatnya untuk melihat, mencermati dan memutuskan siapakah figur untuk dipilih. Tinggalkan saat ini juga prinsip kedekatan primordial: suku, asal dan keturunan. Tinggalkan irasionalitas ‘politik uang’ dan ‘janji abu nawas’. Kita sudah mengalami kegelapan otoritarianisme otot dan uang, kita telah menjadi korban ‘victim psychology’. Dan lihat! Kita ada di mana sekarang? Saatnya kini atau tidak sama sekali/ Now or never.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker