Daerah

Ach Fairuz Abadi: Pentingnya Sertifikasi Da’i dalam Berdakwah


Mataram, JaringPos│Wacana sertifikasi penceramah pertama kali muncul di Kementerian Agama (Kemenag) sejak era Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin. Direalisasikan oleh Menteri Agama (Kemenag) Yaqut Cholil Qoumas, Sekalipun banyak menuai kontroversi di kalangan masyarakat, hal tersebut guna menyaring da’i/penceramah yang mengarah pada paham radikalisme.

Kabid Kebudayaan Ach. Fairuz Abadi, SH. Menjelaskan, terdapat tiga poin penting terkait sertifikasi dakwah yaitu diantaranya problematika dakwah, pemahaman kata da’i, dan alur sertifikasi dakwah. Selain itu, terdapat dua permasalahan dakwah saat ini, yakni dakwah hanya dimaknai tabligh semata dan jarak antara pemikir dan aktivis dakwah. Dalam jumpa pers dengan Jaring Pos Senin, (21/6/2021)


“Banyak alumni dakwah yang tidak memfokuskan diri di bidang tersebut. Banyak orang yang minim pengetahuan dakwah, namun menjadi penceramah. Sebab itulah, muncul sesuatu yang ekstrem, misalnya penceramah lucu dari pelawak atau penceramah yang marah-marah menjadi provokator,” ujarnya.

Dirinya menambahkan, permasalahan selanjutnya yaitu pemaknaan kata dai. Jika dipahami secara harfiah, da’i adalah pendakwah dan jika dakwah dilakukan dengan lisan atau tulisan maka disebut tabligh, dan penyampainya adalah mubaligh. Kemudian, jika dakwah dikembangkan secara nyata, maka disebut pengembangan. Selanjutnya, jika dakwah dilakukan dengan cara mengelola sedemikian rupa disebut manajemen dakwah.

“Dari pengertian dakwah tersebut, da’i adalah seorang komunikator yang melakukan pemberdayaan masyarakat, serta mengatur kegiatan atau lembaga dakwah,” tuturnya.

Baca Juga:

Ach. Fairuz Abadi, SH. mengatakan, sertifikasi merupakan bentuk kelayakan penceramah untuk berdakwah. Urgensi sertifikasi da’i penting untuk meningkatkan mutu atau uji kompetensi dalam mengikuti pelatihan. Selain itu, sertifikasi tersebut bertujuan untuk mecetak da’i yang mampu menyampaikan ajaran Islam yang santun, moderat, dan menyejukkan.

“Standar kelayakan da’i bersertifikasi yaitu standar nilai minimal yang harus dipenuhi oleh para da’i. Standar minimal tersebut mencakup pengetahuan agama, kebangsaan, sistematika dakwah yang mengarah pada ukhuwah Islamiyah,” Katanya (*salmin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker