Berita

Literasi sebagai “Alat Perjuangan” (Refleksi Sederhana di Hari Kartini)


Kupang, Jaringpos | Mungkin Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat atau yang dikenal R.A. Kartini tidak akan ‘dikenang sebagai salah satu pahlawan wanita paling fenomenal dalam lintasan sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia, seandainya beliau ‘tidak bisa menulis’. Sejarah mencatat bahwa ‘buah pena’ R.A. Kartini yang dikirim ke sahabat-sahabatnya di Belanda dikumpulkan oleh Mr. H.J. Abendanon selaku Mentri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan Hindia-Belanda dan diterbitkan dalam bentuk buku yang berjudul: “Door Duisternis tot Licgt” (Dari Kegelapan Menuju Cahaya).

Edisi Bahasa Indonesia dari buku itu baru diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1922 dengan judul: “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Armin Pane  adalah orang yang berjasa dalam proyek penerjemahan itu.


Kartini termasuk salah satu wanita paling beruntung pada zamannya sebab diperkenankan mengenyam pendidikan di ELS (Eurepese Legare School), sekolah khusus  untuk anak-anak keturunan Hindia-belanda dan para bangsawan. Sayangnya, adat istiadat Jawa telah ‘merampok’ kebebasannya untuk meneruskan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi di Batavia atau di Belanda. Dalam usia 12 tahun ‘karier akademiknya’ harus terhenti. Ia mesti menjalani ‘fase pingitan’ (pengurangan anak gadis di dalam rumah) sebelum menikah.

Kendati demikian, pikirannya tidak terkurung sepenuhnya dalam kultur patriarkat itu. Berbekalkan pengetahuan dan kecakapan dalam berbahasa Belanda, Kartini bisa berkontak dengan dunia luar (budaya Eropa) melaui wadah literasi. Dalam usia yang masih sangat muda, beliau bisa berkorespondensi melaui surat dengan sejumlah sahabatnya di Belanda dan bisa membaca surat kabar, majalah, dan buku-buku berbahasa Belanda yang dikirim oleh para sahabat tersebut. Bahkan beberapa tulisan sempat diterbitkan oleh salah satu Majalah Wanita, De Hoallanche Gulie. Tidak berlebihan jika RA Kartini dianggap sebagai ‘penulis hebat’ pada zaman itu.

Melalui berbagai surat dan tulisan itulah, Kartini menyuarakan ‘kegelisahan dan ketidakpuasannya’ terhadap situasi diskriminatif yang dialami sesama kaumnya di Indonesia. Roh perjuangan emansipatif eksistensi dan kiprah politik antara perempuan dan laki-laki, begitu menggelora dalam setiap tulisannya.

Baca Juga:

Tulisan-tulisan Kartini, tentu saja mengguncang budaya Politik di wilayah Hindia-Belanda yang masih terbelenggu tradisi yang bersifat patriarkat. Berkat perjumpaan dan pergumulannya dengan ‘dunia pemikiran Barat’, Kartini bisa membaca dan menggugat realitas ketimpangan yang dialami para perempuan Indonesia. Ia membuat analisis perbandingan antara kultur Eropa yang relatif  egaliter dan liberal dengan iklim tradisi di Jawa yang cenderung ‘merugikan martabat’ kaum hawa.

Singkat cerita, talenta menulis dipakai secara optimal oleh Kartini untuk memperjuangkan hadirnya iklim emansipasi, kesederajatan antara laki-laki dan perempuan. Literasi merupakan ‘senjata andalan’ untuk merobek selubung budaya patriarkat yang sekian lama ‘memarjinalkan’ eksistensi kaum perempuan.

Saya kira, spirit literasi inilah yang perlu mendapat porsi pemaknaan di saat kita mengenang sosok RA. Kartini seperti yang terjadi hari ini. Bahwasannya, perjuangan untuk memperhatikan ‘isu-isu” yang berkaitan dengan hak-hak kaum perempuan di Mabar, tidak harus melaui jalur partai politik dan gerakan demonstrasi secara massif. Para perempuan dan siapa pun yang concern dengan isu-isu perempuan, bisa memaksimalkan media (tulisan) sebagai ‘alat perjuangan’. Literasi dalam level tertentu berpotensi menjadi senjata yang efektif dalam memperjuangkan kepentingan kaum perempuan yang cenderung diabaikan oleh struktur entah politik, pendidikan, budaya dan agama.

“Hari Kartini” mesti menjadi momentum bagi kaum perempuan untuk menghidupkan tradisi berliterasi. Semangat baca-tulis yang tinggi, saya kira menjadi ‘warisan Kartini’ yang patut diteladani dan dikembangkan oleh semua kaum hawa di Mabar saat ini. Coba kita bayangkan, dalam usia yang tergolong remaja Kartini sudah bisa menulis dan membaca berbagai literatur dalam Bahasa Belanda. Dalam situasi dan kondisi yang serba ‘terkunkung’ buah pikirnya terbang ke negeri Belanda. Tulisannya dibaca oleh publik mancanegara.

Lalu, kita yang sekarang bergelar sarjana, semestinya bisa menghasilkan karya kreatif melebihi apa yang ditorehkan Kartini ratusan tahun lampau. Kita sudah dilengkapi dengan pengetahuan dan keterampilan yang memadai serta ditopang dengan teknologi media yang canggih. Kondisi semacam ini semestinya memacu kita untuk semakin kreatif dan produktif dalam berliterasi. Tentu, seperti halnya Kartini, kalau dapat tulisan-tulisan yang kita racik di berbagai media, menyuarakan kegelisahan akan pelbagai fenomena ketidakadilan sosial khususnya yang menimpa kaum perempuan Mabar di kekinian.

Dengan itu, peringatan Hari Lahir RA. Kartini, tidak hanya sebatas seremonial nir-makna. Peringatan semacam itu mesti membawa efek positif sebagai buah dari permenungan akan makna konkret di balik upacara peringatan itu. Saya kira, kesadaran untuk berkanjang pada jalan literasi seperti yang digeluti Kartini semasa hidupnya, menjadi salah satu hikmah yang bisa kita rimba. Mabar membutuhkan ‘sosok Kartini’ masa kini yang bersemangat menyalurkan perjuangan melalui medan literasi.

Akhirnya, selamat merayakan Hari Kartini, 21 April 2020 kepada segenap kaum hawa dan para pegiat feminisme di Mabar ini. Bersama Kartini, kita tingkatkan spirit berliterasi demi masa depan Mabar yang lebih ramah terhadap isu-isu keperempuanan.

Oleh : Sil Joni
Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.

Isi tulisan ini sepenuhnya adalah tanggungjawab Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker