Feature

Muara Sungai Konaweha Memprihatinkan, Abrasi dan Pendangkalan Menghkawatirkan Warga


Kendari, JaringPos | Kondisi abrasi dan pendangkalan pada muara sungai Konaweeha menjadi kekhawatiran sejumlah warga di dua Desa yang mendiami kawasan tersebut. Muara sungai Konaweeha yang juga dikenal dengan nama Sungai Lalimbue juga oleh warga setempat disebut sungai Sampara membelah dua Desa yakni Desa Lalimbue dan Desa Muara Sampara, desa yang bersebrangan dengan Desa Lalimbue.

Kurang lebih 15 meter tanah milik warga di Desa Lalimbue saat ini telah hilang digerus abrasi Sungai Konaweeha. Bahkan, puluhan rumah warga terpaksa dipindahkan akibat abrasi.


Warga sekitar mulai merasakan dampak abrasi pada tahun 2011. Seiring waktu, abrasi makin mengganas yang puncaknya pada Tahun 2015 saat banjir besar melanda wilayah tersebut. Setidaknya puluhan rumah hancur saat bencana banjir terjadi saat itu.

Salah seorang tokoh masyarakat setempat Abdul Muis mengungkapkan bahwa abrasi menggerus bukan hanya pemukiman warga, jalan di Desa Lalimbue juga hilang akibat abrasi. Panjang jalan yang terkena dampak abrasi sungai sekitar 30 meter. Akibatnya, kendaraan roda empat harus menempuh jalur alternatif untuk bisa melintasi wilayah tersebut.

“Bukan hanya pemukiman warga, setengah badan jalan di Desa Lalimbue juga hilang akibat abrasi. Panjang jalan yang terkena dampak abrasi sungai sekitar 30 meter. Akibatnya, kendaraan roda empat harus menempuh jalur alternatif untuk bisa melintasi wilayah tersebut,” ungkapnya Sabtu, (20/3/2021).

Baca Juga:
Muara Sungai Sampara-JaringPos
Ket foto: Kondisi Abrasi pada muara Sungai Sampara di Desa Lalimbue.

Ia menambahkan, kondisi abrasi muara Sungai Sampara harus segera mendapat perhatian serius pemerintah daerah, yang menurutnya lamban dalam mengakomodir permaintaan masyarakat agar penaganan abrasi bisa segera ditanggulangi mengingat semakin parahnya kondisi abrasi. Pertengahan 2018, banjir kembali datang dan meratakan 25 rumah warga di dua desa itu. Masyarakat setempat kini hanya bisa menaruh harapan ke pemerintah setempat agar segera membuat talut. Diharapkan dengan adanya talut sedikit mengurangi abrasi Sungai Konaweeha.

“Sudah mengkhawatirkan, kalau dibiarkan, abrasi akan semakin parah. Dulu sudah pernah ada usulan dari warga untuk membuat talut semacam sungai kecil agar aliran sungai utama bisa dipecah pada aliran yang berkelok sehingga bisa mengurangi debit sungai yang mengalir, otomatis mengurangi abrasi, sebaiknya pemangku kebijakan bisa melibatkan masyarakat dalam hal ini mendengarkan aspirasi warga,” sambungnya.

Ia mengatakan proses pemecahan aliran sungai bisa menjadi solusi disamping sungai buatan yang dimaksud bisa dijadikan aset desa jika ditata sedemikina rupa sehingga bisa menjadi kawasan baru yang produktif sehingga ada daya dukung Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai kemampuan DAS untuk mewujudkan kelestarian dan keserasian ekosistem serta meningkatnya kemanfaatan sumberdaya alam bagi masyarakat secara berkelanjutan.

“Bisa dibuat sedemikian rupa, bisa jadi kawasan wisata baru atau jadi tempat budidaya perikanan,” ujar Muis.

Senada dengan pendapat tokoh masyarakat setempat Sanwing menjelaskan abrasi dan pendangkalan yang terjadi pada muara Sungai Sampara tidak bisa ditanggulangi hanya dengan memasang tiang pancang atau bronjong saja pada bagian pinggiran yang mengalami abrasi.

“Pengerjaanya harus lebih menyeluruh, terukur dan konprehensif, tidak cukup dengan bronjong, ini justru akan memperburuk kondisinya, pembuatan talut saya pikir adalah alternatif terbaik, apalagi sekarang pendangkalan semakin naik pada bagian atas sehingga mendorong arus pada pecahan anak sungai menjadi lebih besar, ini akan berdampak lebaih parah,” ujar mantan Kepala Desa Lalimbue 2 periode ini.

Ia mengatakan perlunya penelitian dan analisa mendalam untuk memastikan langakah tepat untuk merumuskan penaganan abrasi dengan mempertimbangkan dampak lingkungan.

“Saya rasa perlu medatangkan juga ahli-ahli yang bisa memberi masukan, disamping mendengarkan usulan warga, karena ini kan kepentingan semua,” katanya.

Google Map Muara Sungai Konaweeha-JaringPos
Ket foto: Tankapan Layar Foto Google map Kondisi muara Sungai Sampara di Desa Lalimbue.

Camat Kapoiala Sabri yang ditemui baru-baru ini menjelaskan bahwa kondisi abrasi di wilayah muara Sungai Sampara sudah diajukan ke pihak terkait dam hal ini Dinas Pekerjaan Umum (PU), yang menurutnya telah mengecek lokasi rencana pemasangan tiang pancang untuk mencegah terjadinya abrasi yang semakin parah.

“Sudah dilakukan pengecekan oleh dinas terkait, tinggal menunggu pelaksanaan pengerjaannya,” ujarnya.

Ia memaparkan, untuk penaganan secara menyeluruh, terdapat tiga kewenangan yang mengurusi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS), sementara wilayah muara Sungai Sampara belum jelas pengelolaan DAS-nya masuk kedalam kewenangan mana.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2012 Tentang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) menyebutkan, Penyusunan Rencana Pengelolaan DAS dilakukan oleh Menteri untuk DAS lintas negara dan DAS lintas Provinsi oleh Gubernur sesuai kewenangannya untuk DAS dalam provinsi dan lintas kabupaten/kota. Sedangkan Bupati/Walikota sesuai kewenangannya untuk DAS dalam kabupaten/kota.

Dalam menyusun Rencana Pengelolaan DAS sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Menteri, gubernur, bupati/walikota sesuai kewenangannya dapat
membentuk tim dengan melibatkan Instansi Terkait.(04dR)

Laporan: Day Kurniawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker