BeritaDaerah

Wacana Investasi Jembatan Lewamori Bima, Tanggapan Ketua DPP Partai Prabu NTB Dosen UMMAT


Mataram, JaringPos | Rencana pembangunan Jembatan penghubung Lewamori sebenarnya muncul sejak tahun 1970. Namun sampai dengan saat ini karena berbagai masalah belum ada realisasinya. Pembanguan fasilitas umum merupakan salah satu fungsi dan kewajiban pemerintah dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.

Perbandingan antara kebutuhan masyarakat dengan kemampuan keuangan atau anggaran pemerintah berbanding terbalik artinya kebutuhan masyarakat jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan ketersediaan keuangan negara. Kata Ketua DPP Partai Prabu DR.H.Ibrahim Abdullah,SE.,MM Dosen Universitas Muhammadiyah Mataram, Kamis (16/9/2021).


Memang pemerintah dalam melaksanakan tugas dan kewajibanya membangun masyarakat, mendapatkan anggaran disamping diperoleh dari pendapatan asli sendiri, juga dapat melalui pinjaman baik dalam negeri maupun luar negeri seperti pada IMF, Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia dan lain-lain.

“Dan menerbitkan surat obligasi pada masyarakat dalam menghadapi keterbatasan anggaran tersebut, pemerintah dalam melaksanakan pembangunan harus membuat skala prioritas mana fasilitas yang mendesak dibutuhkan itu yang dibangun terlebih dahulu,” sambung H. Ibrahim dalam jumpa Pers dengan Jaringpos.com, Kamis (16/9/2021).

Disamping hal tersebut yang tidak kalah penting sebelum melaksanakan pembangunan atau investasi yang bernilai ratusan miliar dan triliun rupiah harus sebelumnya harus melakukan studi kelayakan (feasibility study).

Baca Juga:

“Dari hasil studi kelayakan dapat diperoleh suatu gambaran keuntungan yang diperoleh dari investasi tersebut,” lanjut H. Ibrahim

Adapun aspek-aspek atau bidang studi kelayakan adalah sebagai berikut:

Pertama, aspek ekonomi dan keuangan penekanan pada bidang ekonomi pada pembangunan jembatan Lewamori apa memberi manfaat atau benefit akan meningkatkan pendapatan masyarakat, kesejahteraan masyarakat, penciptaan lapangan kerja baru dan peningkatan pendapatan daerah atau pemerintah

Pada bagian keuangan harus dihitung secara bisnis, walaupun pemerintah tujuan utamanya bukan mencari keuntungan atau laba.

Dari investasi tersebut berapa nilai tambah yang disumbangkan dalam waktu berapa lama titik pulang pokok modal investasi Break Event Point (BEP).

Kedua, aspek manfaat sosial, tentu investasi tersebut harus berdampak pada positif dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat, seperti mempercepat arus lalu lintas orang, arus lalu lintas barang dan jasa.

Ketiga, aspek pariwisata dan perdagangan, sektor pariwisata sekarang menjadi sektor primadona program pemerintah. Dengan dibangunnya jembatan, apa keuntungan bagi pengembangan pariwisata dan perdagangan.

Keempat, daerah pembukaan jalan menuju jembatan, pembukaan jalan baru dari arah barat menuju jembatan Lewamori ada dua daerah atau dua Desa yaitu: “A. Desa Darussalam di bagian utara, melalui jalur ini akan membelah dua kampung atau dusun, diteruskan dengan membangun jalan baru beberapa ratus meter menuju jembatan. B. Desa Sondosia (tempat kelahiran saya) sudah ada jalan pintas disebelah selatan Desa Sondosia sampai dengan Dusun Pali Sondosia, tinggal membangun jalan baru beberapa meter menuju jembatan,” ujarnya

Juga yang menjadi perhatian dalam studi kelayakan apa menunggu membangun duluan jembatan yang menghubungkan Lomnok Timur dengan Poto Tano Sumbawa Barat sepanjang 16 KM. Katanya (*slm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker