Berita

Cerpen: “Aku Mencintaimu”.

Oleh: Nandichk Ferdinand

Aku bukanlah seorang artis yang banyak dikenal orang. Mungkin aku juga belum disebut sebagai penulis karena hanya meluahkan isi hati dan perasaan lewat tulisan. Tak pernah kuhitung berapa banyak tulisan yang sudah kubuat, entah itu puisi, cerpen, catatan harian, dan sebagainya. Hanya kurasakan kelegaan bila rangkaian aksara yang telah kususun sebagai cerita selesai kuunggah.

Heran, itu yang kurasakan saat seorang penulis tenar hendak menuliskan cerita-cerita tentang kebenaran.  Lebih mengherankan lagi karena aku tak mampu menolak kehadiran sosoknya, sang yang aku cinta itu. Hal lebih tidak masuk akal lagi adalah dia tak segan-segan untuk menyampaikan isi hatinya.

Inilah tulisan awalku yang kukirim padanya yang mungkin dianggap masih berupa basa-basi. Cerita ringan yang  kurasa sendiri tak begitu menarik. Aku berharap dia akan menghentikan keinginannya untuk menggali ceritaku pada episode berikutnya. Tetapi ternyata dugaanku salah. Dengan sabar dia menuntunku, malah lebih tepat menghipnotisku, karena aku semakin tak sabar untuk menyelesaikan cerita yang kutulis. Setiap aku memiliki kesempatan, kuingin menulis untuknya. Kembali kurasakan kesabaran hatinya.

Aku merasakan mendapatkan tempat untuk mencurahkan hatiku. Apa karena aku membutuhkan seorang setelah ditinggalkan orang yang sangat kucintai? Padahal sebelumnya sulit bagi diriku untuk membuka diri bagi wanita lain. Tapi dengan dirinya? Aku seakan-akan kembali jatuh cinta. Dia mampu membuatku tersenyum dan bersemangat. Apalagi saat dia menjanjikan akan datang ke Kampung halaman menjumpaiku untuk melengkapi tulisannya.

Perjumpaan senja tersebut bukan di restoran mewah, atau pinggir Pantai Losari yang romantis, tapi justru di sebuah tempat yang sungguh amat sederhana. Kami duduk bersisian di batu besar taman menghadap selatan, mungkin dia ingin mengenang saat dia SMA di sekolah tak jauh di hadapannya.


Sekali-sekali aku melirik dirinya, “Kenapa masih ada wanita sebaik dirimu dihadirkan untukku?” tanyaku dalam hati.

Mungkin dia tahu dengan kegalauanku karena tiba-tiba mulutku terkatup rapat. Tapi kusadari selama ini cerita hanya berupa tulisan, hampir tak pernah sms, apalagi telepon. Sehingga perjumpaan itu banyak dilalui dengan menatap mentari jingga yang tenggelam di balik pepohonan.

Dilema, itulah yang juga kurasakan saat itu. Pantaskah aku jatuh cinta padanya? Apa aku bisa membuatnya bahagia atau aku hanya akan membuatnya sakit hati. Mungkin aku mencintainya hanya sebagai pelampiasan agar aku bisa melupakan cintaku yang telah terbawa pergi.

Dia pantas mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari aku dan dia pantas untuk bahagia bersama laki-laki lain yang lebih baik dari aku. Mencintainya dengan tulus, bukan aku yang memanfaatkan kesempatan. Dia adalah sosok wanita yang hebat dan penuh perhatian. Aku merasa beruntung bisa kenal dengannya, tidak pernah ada rasa sesal telah membuka hati dan berbagi cerita dengannya.

Andai saja aku mengenalnya pada saat yang tepat pasti aku akan menjadi laki-laki yang sangat beruntung bisa berjalan berdampingan untuk menghabiskan waktu bersama.

“Aku berterima kasih karena kau telah memberikan banyak inspirasi buatku,” sahutku dalam hati.

Aku menanti ucapan selanjutnya dengan hati tak menentu dengan bibir terkatup rapat. Tak dapat kupungkiri banyak di antara cerita-ceritaku padanya terselip perasaan hatiku padanya. Kurasakan juga bila apa yang sedikit banyak dia rasakan. Tapi sebagai wanita Desa, walaupun telah lama meninggalkan Kota, dia tetap membuat samar perasaan hatinya. Satu hal yang kukagumi, dia sungguh profesional dengan profesinya.

Tiba-tiba aku meraih jemarinya dengan penuh kasih. Tanpa bisa kuhambat, dari bibirku dengan lirih terucap, “I love you.”

Tapi entah kenapa, sebuah kata-kata yang seharusnya memiliki makna kebersamaan, tapi aku mengucapkannya bukan untuk sebuah perpisahan. Sangat sulit rasanya untuk melepaskan dan aku harus  memilikinya.

“Maaf aku telah masuk terlalu jauh dalam hidupmu. Mungkin kau merasa aku mencintaimu hanya untuk pelampiasanku, tapi tidak. Sungguh aku mencintaimu,” kata-kata yang tiba-tiba muncul di benakku dan akan kutulis untuknya pada tulisanku berikutnya.

“Agar tak makin menyiksaku. Aku harus pertahankan perasaanku, bukan  sebagai sebuah pilihan melainkan keharusan. Tataplah patung di mana terakhir kita berjumpa, bercerita tentang kebebasan  Kau harus terbang tinggi bagai merpati putih yang bebas menikmati indahnya dunia dari langit. Pertahankanlah aku sebagai pria yang mencintaimu,” kataku di tulisan terakhir. Ternyata tulisan ini menjadi awal cerita tentang kita selanjutnya.

Kampung Watu Baru, 11 Juli 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker