Berita

Ketar-Ketir di ‘Bukit Teletubbies’


Penulis Maria Virginia Helpiany Dauth staf Pengajar SMK Stella Maris Labuan Bajo*

Akhir pekan (weekend) adalah saat-saat yang dinantikan oleh begitu banyak orang.  Tingginya tingkat kesibukan di setiap pekannya mengharuskan kita untuk rehat sejenak dan bersantai. Kegiatan berakhir pekan itu, bagi sebagian orang, sudah  berlaku sebelum pandemi global covid 19 melanda dunia.


Dinamika dalam sepekan itu umumnya seperti ini. Kita mengawali pekan itu di hari Senin yang menegangkan. Semakin tegang di hari Selasa, kemudian puncaknya di hari Rabu. Ketegangan  mulai perlahan mereda di hari Kamis. Senyuman lebar mulai menghiasi wajah di hari Jumat sebagai penanda Sabtu romantis segera tiba dan berakhir di Minggu ceria.

Sungguh ‘akhir pekan’ begitu istimewa di hati para pejuang kehidupan.

Tetapi, begitu banyak hal berbeda terjadi sekarang, di masa pandemi ini. Sudah hampir 5 bulan lamanya, hubungan yang terjalin manis bersama weekend berakhir menggantung. Kini aturan  karantina seakan menjadi ‘Datuk Maringgih’ di antara Siti Nurbaya dan Samsul Bahri. Kita diwajibkan untuk bekerja ‘di’ dan ‘dari’ rumah saja selama pandemi global covid 19 melanda dunia.

Baca Juga:

Namun, hal ini ternyata tidak berlaku bagi beberapa orang lainnya, setidaknya untuk diri saya sendiri. Pada momen akhir pekan kemarin, hati saya dibuat ketar-ketir oleh bukit TELETUBBIES. Siapa yang tidak tahu bukit ini? Lanskap rerumputan indah yang dihuni oleh 4 makhluk warna-warni atau TELETUBBIES. Kartun tahun 1990-án yang sangat viral pada masa itu, menginspirasi banyak orang untuk menamai beberapa lokasi wisata alam  bukit rerumputan dengan nama BUKIT TELETUBBIES.

Salah satunya terdapat di Kampung Lemes, Desa Macang Tanggar, Manggarai Barat. Viralnya bukit ini beberapa waktu belakangan, sempat menghilangkan rasa penat akibat karantina selama beberapa bulan terakhir.

Berselancar di sosial media, melihat begitu banyak masyarakat di Labuan Bajo mengunggah foto berlatar bukit indah tersebut, menyebabkan hati ketar-ketir, ingin rasanya bertamasya ceria di sana juga. Bukit ini sedang viral-viralnya. Ini momen penting, tidak boleh ketinggalan. Hampir setengah  masyarakat kota Labuan Bajo melancong ke sana.

Layaknya Sitih Nurbaya, hati ini sebenarnya ingin sekali berontak dari genggaman sang Datuk Maringgih Karantina. Rupanya ketar-ketir hati ini memang sudah tidak tertahankan lagi. Perjumpaan dengan bukit TELETUBBIES pun sejenak menjadi pelarian singkat. Perasaan gembira mendominasi pikiran dan hati selama perjalanan menuju bukit TELETUBBIES itu.

Tidak heran, karena sepanjang perjalanan, banyak suguhan yang disediakan alam, begitu memanjakan mata, seperti Siti Nurbaya terlepas dari genggaman Datuk Maringgih, terbebas dari sangkar. Suasana romantis yang sejuk dan tenang perlahan melintasi benak. Banyak ide dan rencana mengantri dan bersiap untuk dieksekusi setibanya di bukit TELETUBBIES. Namun apalah daya, harapan juga ekspetasi memang terkadang tidak sesuai dengan realita.

Perjumpaan pertama dengan bukit TELETUBBIES lagi-lagi menimbulkan ketar-ketir di hati. Semilir tiupan angin sempat menimbulkan keringat dingin tak terelakan.

Ternyata perjumpaan perdana itu disaksikan oleh ratusan orang dari berbagai kalangan juga dari berbagai sudut kota Labuan Bajo lengkap dengan kerabat masing-masing. Bahkan suara merdu Alm. Didi Kempot terdengar dari salah satu tape mobil yang terparkir, seolah ingin  menyambut kami dengan ramahnya.

Katanya “Ketar-ketir, ati tansah ketar’ketir; Yan tak pikir, aku koyo lampu senthir. Kelap-kelip, mobat-mabit; Yen lagi keterak angina sing sembirit”. Entah apa artinya tetapi semakin membuat ketar juga ketir hati ini menyaksikan begitu banyak orang bertamasya manis.

Bukan soal tamasyanya, tetapi ini soal protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah. Tidak semua dari ratusan orang yang bertamasya tersebut betul-betul menjalankan protokol kesehatan yang dianjurkan. Masih ada di antaranya menggunakan masker dan berjaga jarak.

Kurang lebih 15 menit waktu yang dibutuhkan hingga akhirnya keberanian muncul untuk masuk ke kawasan bukit tersebut dan berbaur di tengah keramaian tentunya tetap berjaga jarak dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya terdiam menyaksikan teduhnya cahaya matahari terbit. Lumayan meredakan ketir.

Wabah pandemi Covid-19 ini belum berakhir sebagaimana kisah cinta Siti Nurbaya dan Datuk Maringgih.  Sejauh apapun Siti Nurbaya mencoba melarikan diri, sang Datuk akan tetap menangkapnya. “New Normal” sudah digemakan. Namun apa maksud dari hidup normal yang baru ini, tentu harus dipahami. Hidup kita kembali normal layaknya Siti Nurbaya. Dia bebas melakukan apa saja tetapi tetap di bawah pengawasan Sang Datuk. Jika Siti Nurbaya melakukan kesalahan maka akan tetap menerima hukuman dari sang Datuk. Begitupun “New Normal”, kita sudah bisa beraktifitas normal kembali tetapi normal yang baru yaitu tetap harus melaksanakan protokol kesehatan mencegah serangan wabah Covid-19. Mengapa? Covid-19 ini tak sepenuhnya hilang kecuali ada penangkalnya.

Ketar-ketir pikiran juga hati pada akhirnya mendominasi pertemuan perdana dengan bukit TELETUBBIES tersebut. Mereka tak berhenti memperdebatkan dua pilihan yang berat. Yang pertama adalah ‘ketar-ketir’ hati ingin  meramaikan dan menjadikan bukit TELETUBBIES viral sekalian melarikan diri sejenak dari ‘hubungan paksa’ dengan karantina. Sedangkan yang berikutnya adalah ‘ketar-ketir’ hati menyaksikan masih banyak orang yang melanggar protokol kesehatan yang tentunya akan menyebabkan munculnya celah bagi Covid-19 untuk masuk.

Seperti Siti Nurbaya ingin melarikan diri dari Datuk Maringgih walau dia tahu tidak akan bisa.  Berusaha hidup senormal mungkin namun tetap di bawah pengawasan Datuk Maringgih. Sekali dia berbuat salah maka pasti hukuman yang didapat.

Akhirnya, weekend ceria yang sudah lama dinantikan bisa kembali dirasakan walau penuh ketar-ketir.

Isi tulisan ini sepenuhnya adalah tanggungjawab Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker